Pak Gito

Menoreh Seed

Yoga Putra [ kompas.com  Sabtu, 7 Februari 2009 | 00:10 WIB ] Pertengahan 1986 Petrus Sugito bertanya kepada seorang penjual buah, durian apa yang paling enak. Tak diduga, si penjual buah menyebut durian menoreh dari Kulon Progo. Jawaban sederhana itu justru membuatnya terperangah.

Gito, panggilannya, benar- benar tidak tahu bahwa ada jenis durian menoreh. Bahkan, itulah kali pertama dia mendengar nama durian menoreh. Padahal, dia adalah putra asli Kulon Progo.

Dia lahir dan besar di daerah Perbukitan Menoreh, lokasi penghasil jenis durian tersebut, tepatnya di Dusun Promasan, Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Gito lalu bercerita, percakapan singkatnya dengan si penjual buah puluhan tahun lalu itu telah menumbuhkan rasa penasaran dia terhadap durian menoreh. Ia juga mendapatkan informasi tambahan bahwa jenis durian itu amat langka di pasar karena masih tumbuh liar di hutan.

“Saya pikir, wah, durian menoreh adalah peluang bisnis yang potensial. Rasanya enak dan banyak diminati orang. Berarti durian tersebut harus bisa dibudidayakan,” tutur bapak tiga anak itu.

Berbekal keingintahuan yang besar, Gito yang dahulu bekerja sebagai petani ladang mulai gencar berburu durian menoreh. Ia memulai petualangannya pada awal tahun 1987.

Ditemani Ruwet Subiyanti, istrinya, ia kemudian merambah setiap sudut wilayah Kecamatan Kulon Progo yang berada di sekitar Perbukitan Menoreh, mulai dari Girimulyo, Kokap, Kalibawang, Samigaluh, Pengasih, sampai ke Nanggulan.

Lebih dari 700 buah durian masuk ke perutnya selama dua tahun masa perburuan. Dengan hanya mengandalkan ketajaman indra pengecapan dan penciuman, Gito berhasil menemukan tiga jenis durian menoreh yang paling enak. Ketiganya berasal dari Dusun Promasan dan Dusun Slanden di Desa Banjaroyo.

Tak berhenti sampai di situ, Gito lalu menanam biji durian menoreh di halaman rumah. Ia juga meminta potongan mata tunas di batang pohon indukan yang sudah tumbuh besar milik warga setempat, antara lain Noto Priyo, Sukidal, dan Kasiyatun.

“Pohon durian milik Noto Priyo itu daging buahnya tebal, sedangkan daging buah durian punya Sukidal warnanya kuning. Kalau daging buah durian milik Bu Kasiyatun warnanya jingga,” cerita Gito seraya memerinci keunggulan dari masing-masing pohon durian indukan itu.

Akan tetapi, menanam durian ternyata bukan perkara mudah. Dari 80 biji yang dia tanam, hanya enam yang bisa tumbuh. Setelah berusia dua minggu, pohon-pohon muda itu lalu disambung dengan mata tunas dari pohon indukan. Itu pun masih kerap gagal.

“Pokoknya, setelah mencoba tiga kali menanam biji dan menempelkan mata tunas, saya baru berhasil menumbuhkan 15 tanaman,” kata anggota Kelompok Tani Mamprih Subur itu.

Titik terang

Jerih payah Gito menemukan titik terang sekitar tahun 2000. Kabar keunggulan durian menoreh yang ia budidayakan tersiar ke mana-mana, termasuk ke telinga para pejabat Pemerintah Kabupaten Kulon Progo.

Dinas Pertanian dan Kehutanan Kulon Progo lalu meneliti durian menoreh dan mengusulkannya sebagai varietas durian unggul nasional. Usulan ini direspons pemerintah pusat.

Puncaknya, pada 8 Mei 2007 Menteri Pertanian menerbitkan surat keputusan yang isinya menyatakan, durian varietas menoreh kuning dan jambon (jingga) sebagai varietas unggulan nasional.

Durian menoreh dinilai unggul karena memiliki warna daging buah jingga dan kuning cerah, aromanya tajam, rasa manis, dan ukuran buahnya relatif besar. Lebih khas lagi, daging buah durian menoreh tebal, tak berserat, dan kesat. Daging buahnya mudah dipisahkan dari biji.

“Wah, saat itu saya bangga bukan main. Tidak sia-sia kerja saya selama 20 tahun, durian ndeso Kulon Progo bisa naik pamor ke tingkat nasional,” ujarnya.

Sejak itu Gito tak lagi menghabiskan waktu di ladang, ia merawat pohon-pohon durian. Belakangan ia sering berkeliling Kulon Progo dan kabupaten lain di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah, bahkan hingga Thailand, berbagi ilmu menanam durian.

Gito juga membuka lapangan kerja baru di dusunnya. Tak kurang dari 50 warga, baik petani maupun bukan, dia libatkan dalam proses budidaya durian menoreh. Ada yang bertugas merawat bibit, menyemai benih, mengisi tanah ke dalam kantung plastik (polybag), dan sebagainya.

Setelah berusia 6-8 bulan, bibit durian menoreh siap dijual. Harganya mulai Rp 7.500 sampai Rp 35.000 per batang tergantung kualitasnya. Selama dua tahun terakhir, Gito menghasilkan 2.000 batang.

Modal koperasi

Peminat bibit durian menoreh cukup banyak, mulai dari warga DI Yogyakarta, Jawa Tengah, hingga Sumatera. Pembeli ditanggung tak akan kecewa karena bibit itu bersertifikat.

“Uang hasil penjualan bibit kami gunakan untuk modal koperasi yang juga akan kembali ke anggota dan warga sekitar. Kami tidak mengenal sistem penggajian,” tuturnya.

Meski sudah berhasil meraih pencapaian relatif besar, Gito tetap gelisah. Ia jengah dengan serbuan durian impor jenis monthong dari Thailand ke Indonesia.

“Ingin rasanya membuat para penggemar durian di Tanah Air berpaling ke durian menoreh,” katanya.

Sayangnya, durian menoreh hanya bisa hidup di daerah perbukitan dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut. Padahal, budidaya durian skala besar di atas bukit amat sulit lantaran luas hamparan lahan terbatas.

“Durian menoreh juga lambat berproduksi. Setelah enam tahun baru berbuah. Pohonnya tinggi-tinggi. Jadi petani sering sulit memanennya,” katanya.

Untuk menyiasatinya, Gito mengatur penyiraman dan pemberian pupuknya. Tanah di sekitar pohon tak boleh terlalu basah atau terlalu kering sebab tanaman bisa mati. Langkah lainnya adalah dengan memangkas pohon secara teratur agar buah durian mudah dipetik.

Saat musim berbuah yang berlangsung November hingga Februari, dari satu pohon durian bisa menghasilkan 50-100 buah. Harga jualnya Rp 25.000 hingga Rp 40.000 per buah. Dari hasil penjualan durian tersebut, para petani dapat meningkatkan taraf ekonomi rumah tangganya.

“Sudah bukan zamannya lagi petani hidup sengsara. Apalagi petani yang tinggal di daerah terpencil seperti saya. Kalau mau berusaha, petani juga bisa sejahtera,” kata Gito.

Ia bangga upaya yang berawal dari pekarangan rumah itu belakangan ini telah berkembang sedemikian rupa. Bibit durian menoreh kini bisa dijumpai dengan mudah nyaris di sepanjang jalan masuk Dusun Promasan.


Biodata

Nama: Petrus Sugito

Lahir: Kalibawang, Kulon Progo, DI Yogyakarta, 19 Oktober 1956

Istri: Ruwet Subiyanti (49)

Anak:

– Ida (24), (Rob Ndruru)

– Kristianto (21),

– Tri Cahyono (11)

Aktivitas:

– Petani durian menoreh

– Anggota Kelompok Tani Mamprih Subur

Pendidikan:

– SD Negeri Promasan, 1963-1969

– Kursus Pertanian Tanaman Tani, 1981

http://durianmenoreh.blogspot.com/

Jln. Kaliurang KM 19
Pakem-Sleman Yogyakarta.

Telpon: Kantor Pemasaran: (0274) 7004879/ 0813 1388 8479